DI KELAS III SD NEGERI KARANGREJO Fitrotis Saadah NIM

DI KELAS III SD NEGERI KARANGREJO Fitrotis Saadah NIM. 837408003 Email [email protected] Abstrak Penelitian mengenai peningkatakan hasil belajar siwa melalui model discovery learning pada materi penggolongan tumbuhan di kelas III SD Negeri Karangrejo ini dilatar belakangi oleh guru belum menggunakan model pembelajaran yang tepat sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa. Penelitian ini berfokus pada bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada materi penggolongan tumbuhan dengan menggunakan model discovery learning pada siswa kelas III SD Negeri Karangrejo. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada materi penggolongan tumbuhan dengan menggunakan Model discovery learning pada siswa kelas III SD Negeri Karangrejo. Jenis penelitian yang dipakai adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari 2 siklus/putaran. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa pada kelas III SD Negeri Karangrejo. Dari hasil analisis data pada kondisi prasiklus tingkat ketuntasan mencapai 41,67. Setelah mendapat tindakan perbaikan pada siklus I tingkat ketuntasan mencapai 58,3 dan pada siklus II naik menjadi 83. Kemudian untuk nilai rata-rata kelas, pada siklus I mencapai 67,3 dan nilai rata-rata kelas pada siklus II naik menjadi 81. Dengan hasil yang dicapai tersebut dapat dinyatakan tuntas dan dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran IPA terjadi peningkatan hasil belajar pada siswa kelas kelas III SD Negeri Karangrejo dengan menggunakan model discovery learning. Kata kunci penggolongan tumbuhan, model discovery learning, hasil belajar Pendahuluan Latar Belakang Masalah Identifikasi Masalah Pembelajaran IPA pada hakikatnya meliputi unsur sikap, proses, dan produk yang mana dalam pencapaian unsur-unsur tersebut seyogyanya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pembelajaran IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar anak didik mampu memahami alam sekitar melalui proses mencari tahu dan berbuat. Rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPA, menunjukan bahwa mata pelajaran IPA masih dirasakan sulit. Pemberian materi secara ceramah masih menjadi pilihan utama para pengajar, namun dalam pembelajaran IPA yang dituntut anak harus aktif dalam pembelajaran dirasa kurang efektif dalam pemahaman konsep IPA bila hanya dengan metode ceramah. Penulis melihat kondisi di kelas III SD Negeri Karangrejo masih ditemukan berbagai kendala dan hambatan berkaitan dengan ketepatan penggunaan model atau metode pembelajaran pada materi ini. Berdasarkan hasil Tes Formatif Pra Siklus untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa kelas III SD Negeri Karangrejo, didefinisikan diperoleh hasil dari 12 siswa kelas III hanya 5 siswa yang mencapai KKM atau tuntas dan 7 siswa belum dikatakan tuntas, yaitu hanya mencapai 41,67 . Analisis Masalah Mengacu pada hasil prasiklus, ditemukan beberapa masalah diantaranya Aktivitas belajar siswa cenderung rendah dan monoton karena proses pembelajaran masih didominasi oleh penjelasan guru. Belum terlihat adanya variasi pembelajaran, sehingga hanya siswa tertentu yang memperhatikan di saat pembelajaran. Hanya beberapa siswa yang aktif bertanya dan sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan. Contoh-contoh materi pembelajaran masih bersifat imajinatif. Hasil tes formatif masih rendah. Dari sekian banyak faktor yang secara teori diasumsikan menjadi penyebab rendahnya hasil belajar IPA, faktor yang mendominasi penyebab hasil belajar rendah adalah faktor ketepatan penggunaan model pembelajaran yang kurang bervariasi. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah Setelah permasalahan dianalisis, maka model discovery learning bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menstimulus siswa aktif dalam pembelajaran. Model discovery learning adalah proses pembelajaran yang menuntut siswa menemukan suatu konsep yang belum diketahui sebelumnya dengan cara melakukan suatu pengamatan dan penelitian dari masalah yang diberikan oleh guru yang bertujuan agar siswa berperan sebagai subjek belajar terlibat secara aktif dalam pembelajaran dikelas. Kelebihan model discovery learning ini adalah dapat melatih siswa belajar secara mandiri, melatih kemampuan bernalar siswa, serta melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan sendiri dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah penelitian adalah bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada materi penggolongan tumbuhan dengan menggunakan model discovery learning pada siswa kelas III SD Negeri Karangrejo Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada materi penggolongan tumbuhan dengan menggunakan Model discovery learning pada siswa kelas III SD Negeri Karangrejo. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat Teoritis Untuk memperoleh gambaran secara faktual dan aktual mengenai penerapan Model discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas III SD. Manfaat Praktis Bagi peneliti adalah sebagai acuan, sumber informasi tentunya bagi yang berkepentingan dan pembaca hasil penelitian ini. Bagi siswa yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa meliputi pemahaman, sikap, dan keterampilan siswa terhadap mata pelajaran IPA pada materi penggolongan tumbuhan melalui model discovery learning. Bagi sekolah yaitu dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, khususnya mata pelajaran IPA, sehingga hasilnya akan berdampak pada kemajuan dan perkembangan belajar siswa dalam memperoleh hasil belajarnya. Bagi institusi pendidikan adalah sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian berikutnya. Kajian Pustaka Penggolongan Tumbuhan Penggolongan Tumbuhan Berdasarkan Bentuk Tulang Daun Setiap daun dihubungkan oleh tangkai daun ke batang. Permukaan daun biasanya pipih melebar dan berwarna hijau. Pada permukaan daun terlihat tulang daun yang bentuknya berbeda-beda. Tulang Daun Menyirip Bentuk tulang daun yang menyirip berbentuk seperti sirip ikan. Tumbuhan yang mempunyai tulang daun menyirip antara lain mangga, jambu, dan nangka. Tulang Daun Melengkung Tulang daun melengkung berbentuk seperti garis lengkung. Tumbuhan yang mempunyai tulang daun melengkung antara lain genjer, eceng gondok, dan sirih. Tulang Daun Menjari Tulang daun menjari berbentuk seperti susunan jari tangan manusia. Tumbuhan yang mempunyai tulang daun menjari antara lain ketela pohon, semangka, dan pepaya. Tulang Daun Sejajar. Tulang daun sejajar mempunyai susunan tulang daun yang sejajar.Tumbuhan yang mempunyai tulang daun sejajar antara lain tebu, padi, dan jagung. Penggolongan Tumbuhan Berdasarkan Bentuk Akar Bentuk akar tumbuhan ada dua yaitu akar serabut dan akar tunggang. Akar serabut adalah kumpulan akar-akar berbentuk serabut. Semua akar itu tumbuh dari pangkal batang. Akar serabut biasanya dimiliki oleh tumbuhan berbiji satu. Contoh tumbuhan berakar serabut yaitu rumput, padi, kelapa, dan jagung. Akar tunggang mempunyai bagian akar pokok. Akar pokok itu tumbuh dari pangkal batang. Selanjutnya, dari akar pokok itu, tumbuh cabang-cabang akar. Akar tunggang biasanya dimiliki oleh tumbuhan berbiji lebih dari satu. Contoh tumbuhan berakar tunggang yaitu cabai, bayam, wortel, jeruk, dan kacang-kacangan. Penggolongan Tumbuhan Berdasarkan Sifat Batang Batang merupakan tempat melekatnya daun, bunga, dan buah. Berdasarkan sifatnya, batang dibedakan menjadi tiga sebagai berikut. Batang Basah. Batang basah bersifat lunak dan mengandung air. Batang basah biasanya berwarna hijau, contohnya bayam. Namun, ada pula batang basah yang warnanya ungu kecokelatan, contohnya krokot. bayam Batang Berkayu. Batang berkayu sifatnya keras dan kuat. Tumbuhan yang mempunyai batang berkayu, contohnya pohon jati, mangga, dan jambu.. Batang Beruas-ruas. Ruas-ruas batang ini tersusun dari pangkal batang hingga ujung batang. Tumbuhan yang mempunyai batang beruas-ruas contohnya padi, tebu dan bambu. Penggolongan Tumbuhan Berdasarkan Jumlah Keping Biji Berdasarkan jumlah keping biji, tumbuhan dibagi menjadi Tumbuhan Monokotil Akar tersusun atas akar serabut Batang tidak berkambium Daun berbentuk pita dan panjang Daun lebar-lebar, dengan bentuk beraneka ragam. Bagian bagian bunga umumnya berjumlah 3 atau kelipatannya. Contoh tumbuhan monokotil padi, jagung, kelapa, pisang. Tumbuhan Dikotil Akar berupa akar tunggang Batang berkambium dan bercabang-cabang Daun bertulang daun sejajar atau melengkung Bertulang daun menyirip atau menjari Bagian bunga umumnya berjumlah 2, 4 dan 5 atau kelipatannya. Contoh tumbuhan dikotil kacang-kacangan, jeruk, mangga. Model Discovery Learning Pengertian Model Discovery Learning Hosnan (2014282) mengemukakan bahwa discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi. Sardiman (dalam Kemendikbud, 2013b4) mengungkapkan bahwa dalam mengaplikasikan model discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Tujuan Model Discovery Learning Berdasarkan pendapat para ahli, tujuan model discovery learning adalah menciptakan siswa yang aktif dan mandiri dalam menemukan solusi dari masalah pada kegiatan pembelajaran, serta melatih kemampuan berfikir siswa dan keterampilan kepercayaan diri dalam memutuskan sesuatu secara objektif. Kelebihan dan Kelemahan Model Discovery Learning Kelebihan Model Pembelajaran discovery learning (Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013, 201431) adalah a) membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan proses kognitif b) pengetahuan yang diperoleh sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer c) menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil d) memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri e) siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri f) berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan g) membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. Kelemahan model pembelajaran discovery learning (Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013, 201431) adalah a) diperlukan kesiapan pikiran untuk belajar b) tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak c) harapan-harapan yang terkandung dalam model ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama d) lebih sesuai untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan aspek konsep, keterampilan, dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian e) Tidak menyediakan kesempatan kesempatan untuk berpikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru. Langkah langkah Pelaksanaan Model Discovery Learning Menurut Syah (2004244), dalam mengaplikasikan model discovery learning dikelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan, yaitu 1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), 2) Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), 3) Data collection (pengumpulan data), 4) Data Processing (pengolahan data), 5) Data Processing (pengolahan data), 6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi). Hasil Belajar Konsep Hasil Belajar Menurut Hamalik (2008155), hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik sebelumnya yang tidak tahu menjadi tahu. Menurut Suprijono (20145), hasil belajar juga dapat diartikan sebagai pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar menurut Asep Jihad dan Abdul Haris (201214) adalah pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan setelah mengikuti proses belajar mengajar yang dapat diamati dan diukur untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hasil Belajar dalam Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik Menurut taksonomi Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bloom (1956) mengemukakan bahwa aspek kognitif merupakan pemahaman terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan, sedangkan afektif adalah sikap dan penghayatan peserta didik, kemudian psikomotorik adalah pengalaman atau keterampilan peserta didik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), applicatian (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiotory, pre-routine, rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual (Bloom dalam Suprijono, 20106). Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran Subjek, Tempat, Waktu Penelitian dan Pihak yang Membantu Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas III SD Negeri Karangrejo Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik dengan jumlah siswa 12 siswa, terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Tempat Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di kelas III SD Negeri Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Waktu Penelitian Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018 bulan April sebanyak 2 siklus dengan perincian sebagai berikut Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 2 April 2018. Siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 10 April 2018. Pihak yang Membantu Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti dibantu oleh Bapak Saifuddin, S.Pd. selaku kepala sekolah sekaligus supervisor 2 dan Ibu Siti Maslah, S.Pd.SD selaku guru senior yang dijadikan teman sejawat. Desain Prosedur Perbaikan Penelitian Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yaitu tindakan reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Penelitian dilakukan melalui empat langkah dalam setiap siklus penelitian, yaitu perencanaan (planing), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection) serta indikator kerja. Siklus kedua dilakukan mengacu pada siklus sebelumnya dengan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada siklus pertama. Langkah-langkah kegiatan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Siklus I Perencanaan Adapun rancangan tindakan mencakup hal-hal sebagai berikut Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah. Merencanakan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I sesuai indikator yang telah ditetapkan dan skenario model discovery learning. Menyiapkan materi dan media yang dibutuhkan untuk pembelajaran. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS). Menyusun perangkat tes hasil belajar siswa. Menyiapkan instrumen pengumpulan data. Menyiapkan daftar nilai yang akan diperlukan untuk menghimpun data nilai siswa. Menyiapkan Alat Penilaian Kemampuan Guru 1 (APKG-1) untuk penilaian persiapan perbaikan pembelajaran dan Alat Penilaian Kemampuan Guru 2 (APKG-2) untuk penilaian pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Menyiapkan jurnal yang akan diisi oleh Supervisor 2 sebagai bahan untuk refleksi dan melakukan bimbingan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan dalam PTK, dimaksudkan sebagai aktivitas yang dirancang dengan otomatis untuk menghasilkan adanya peningkatan atau perbaikan dalam pembelajaran dan praktek pendidikan dalam kondisi kelas tertentu. Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran I untuk mata pelajaran IPA materi Penggolongan Tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji dilaksanakan di kelas III SD Negeri Karangrejo dengan jumlah siswa 12 anak pada hari Senin tanggal 2 April 2018 dengan alokasi waktu 2 x 35 Menit. Kegiatan pembelajaran pada siklus 1 ini disesuaikan dengan RPP I dan metode yang sudah direncanakan, sedangkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi Penggolongan Tumbuhan diberi soal latihan sebanyak 10 soal dengan skor maksimal 100 dan rentang nilai 0 100. Dalam kegiatan rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran I, peneliti diamati dan dinilai oleh Supervisor 2 yang bertindak sebagai penilai yang merupakan Kepala Sekolah SD Negeri Karangrejo tempat peneliti mengadakan penelitian dengan dibantu oleh salah satu guru senior bersertifikasi yang bertindak sebagai penilai. Observasi Untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan perbaikan pembelajaran I dengan perencanaan serta untuk mengetahui seberapa jauh tindakan yang sedang berlangsung dan menghasilkan perubahan sesuai dengan yang diinginkan pada Siklus I, maka peneliti diamati oleh Supervisor 2 yang merupakan Kepala Sekolah SD Negeri Karangrejo dan Penilai 1 merupakan guru senior di SD Negeri Karangrejo untuk membantu Supervisor 2 memberikan penilaian. Pada Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran I yang diamati dan dilakukan oleh Supervisor 2 adalah Persiapan mengajar dan Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran I (mengisi APKG-1 dan APKG-2) Tingkah laku siswa dan guru selama proses kegiatan belajar mengajar. Mengisi jurnal sebagai bahan masukan bagi peneliti untuk melakukan refleksi dan melanjutkan ke langkah-langkah berikutnya. Sedangkan untuk mengetahui tingkat pemahaman tentang materi materi Penggolongan Tumbuhan yang telah disampaikan oleh peneliti, maka siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal latihan sebanyak 10 soal dengan skor maksimal 100 dan rentang nilai 0-100. Dari hasil pengamatan Supervisor 2 serta hasil belajar siswa sebagai alat ukur keberhasilan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar pada Siklus I adalah sebagai berikut Model pembelajaran belum maksimal diterapkan Masih ada siswa yang belum tercapai dalam menguasai materi pelajaran Masih ada siswa yang belum aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Guru masih dominan dalam kegiatan pembelajaran Refleksi Refleksi adalah mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan siklus I yaitu dengan menganalisis hasil tes. Refleksi dilakukan untuk mengetahui proses belajar mengajar yang sudah dilaksanakan dan mendiskusikan hasil analisis yang diperoleh dari pengamatan untuk perbaikan pada pelaksanaan siklus II. Siklus II Perencanaan Perencanaan yang dilakukan antara lain Menentukan jadwal perbaikan pembelajaran Siklus II. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II. Menyiapkan media yang dibutuhkan untuk pembelajaran. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS). Menyusun perangkat tes hasil belajar siswa. Menyiapkan instrumen untuk pengumpulan data berupa pedoman obsevasi untuk siswa dan guru. Menyiapkan daftar nilai yang diperlukan untuk menghimpun nilai siswa. Menyiapkan Alat Penilaian Kemampuan Guru 1 (APKG-1) untuk penilaian persiapan perbaikan pembelajaran dan Alat Penilaian Kemampuan Guru 2 (APKG-2) untuk penilaian pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Menyiapkan jurnal yang akan diisi oleh Supervisor 2 sebagai bahan untuk refleksi dan melakukan bimbingan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Pelaksanaan Tindakan Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran II untuk mata pelajaran IPA materi Penggolongan Tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji dilaksanakan di kelas III SD Negeri Karangrejo dengan jumlah siswa 12 anak pada hari Selasa tanggal 10 April 2018 dengan alokasi waktu 2 x 35 Menit. Kegiatan pembelajaran pada siklus II ini disesuaikan dengan RPP II dan model pembelajaran yang sudah direncanakan, sedangkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi Penggolongan Tumbuhan diberi soal latihan sebanyak 10 soal dengan skor maksimal 100 dan rentang nilai 0 100. Dalam kegiatan Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran II, peneliti diamati dan dinilai oleh Supervisor 2 yang bertindak sebagai penilai yang merupakan Kepala Sekolah SD Negeri Karangrejo tempat peneliti mengadakan penelitian dengan dibantu oleh salah satu guru senior bersertifikasi yang bertindak sebagai penilai 1. Observasi Pengamatan pada siklus II ini dilakukan sama seperti pada siklus I. Yang membedakan adalah bentuk kegiatan penemuan yang berlangsung di dalam kelas pada siklus I dan kegiatan pengamatan di luar kelas pada siklus II. Pada Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran II yang diamati dan dilakukan oleh Supervisor 2 adalah Persiapan mengajar dan Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran II (mengisi APKG-1 dan APKG-2). Tingkah laku siswa dan guru selama proses kegiatan belajar mengajar (mengisi lembar pengamatan) Mengisi jurnal sebagai bahan masukan bagi peneliti untuk melakukan refleksi dan melanjutkan ke langkah-langkah berikutnya. Refleksi Pada siklus II diharapkan hasil belajar yang dicapai siswa harus lebih baik dari siklus I dan diharapkan mengalami peningkatan sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal. Disamping itu, siswa yang sudah baik diharapkan untuk membantu temannya yang belum memahami tentang konsep penggolongan tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji. Dari hasil refleksi yang diteliti pada siklus 2 dan berdiskusi dengan supervisor 1 selaku pembimbing pembuatan laporan, maka penelti berkesimpulan hasil yang diperoleh pada pelaksanaan siklus 2 sudah memuaskan, sehingga peneliti menghentikan penelitian sampai pada siklus 2. Teknik Analisis Data Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Karangrejo yang berjumlah 12 orang pada mata pelajaran IPA dengan materi penggolongan tumbuhan terhadap nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 60 melalui model discovery learning, untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa terhadap pemahaman materi tersebut peneliti menggunakan teknik analisa data kuantitatif dengan cara mamberikan evaluasi berupa soal tes tertulis (post tes) pada setiap akhir siklus. Adapun metode penilaianya berupa skor yang ditentukan oleh peneliti dengan rentang nilai antara 0-100, baik pada siklus I maupun siklus 2. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu Untuk menilai ulangan atau tes formatif. Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan (Depdikbud, 1994) X QUOTE Dengan X Nilai rata-rata QUOTE Jumlah semua nilai siswa QUOTE Jumlah siswa Untuk Ketuntasan Belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum KTSP 2004 dimana tiap sekolah diberi wewenang untuk menentukan kriteria ketuntasan minimal maka SD Negeri Karangrejo menentukan bahwa seorang siswa telah tuntas belajar bila telah tercapai skor 60 atau nilai 60 dan kelas tersebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat nilai 60 yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 60. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut (Depdikbud, 1994) P QUOTE Hasil dan Pembahasan Data penelitian ini diperoleh melalui pengamatan terhadap proses penelitian yang terdiri dari dua siklus. Adapun hasil penelitian dari masing-masing siklus dapat peneliti uraikan sebagai berikut Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran Siklus I Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 2 April 2018 pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 08.10 WIB di kelas III SD Negeri Karangrejo dengan jumlah siswa 12 anak. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada RPP yang telah disiapkan sebagaimana terlampir. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Berdasarkan hasil refleksi awal, peneliti menyusun rencana tindakan untuk memecahkan masalah. Perencanaan ini mencakup menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, instrumen pengumpul data dalam bentuk perencanaan dan rambu-rambu analisis data (target). Adapun pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I diuraikan sebagai berikut 1) Pada tahap pendahuluan peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Menyampaikan tujuan pembelajaran Memberikan motivasi kepada siswa Mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan terhadap media yang sudah disajikan guru. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi media yang sudah disajikan guru. Membagi kelompok secara heterogen dengan jumlah anggota 3-4 anak untuk mendiskusikan materi tentang penggolongan tumbuhan yang ada pada buku ajar siswa. 2) Pada tahap kegiatan inti peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Siswa memahami materi penggolongan tumbuhan. Siswa mencatat data yang diminta dalam lembar kerja siswa yang ada pada buku ajar siswa secara diskusi kelompok dan menjawab setiap soal-soal dengan berpedoman pada materi yang mereka pahami dari kegiatan literatur. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menyimpulkan hasil penemuannya terkait dengan materi penggolongan tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji. Siswa diberi kesempatan untuk menampilkan dan mempresentasikan hasil kerja kelompok dan membuat kesimpulan dari apa yang didapat pada masing-masing kelompok. Guru menanggapi setiap hasil temuan pada lembar kerja siswa yang telah dipresentasikan. 3) Pada tahap penutup peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Siswa bersama guru membuat kesimpulan hasil pembelajaran pada pertemuan kali ini. Guru memberi penghargaan terhadap kelompok yang berkinerja baik. Memberi motivasi kepada siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran untuk lebih giat dan aktif dalam pembelajaran. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi soal postest Menyampaikan informasi terhadap materi yang akan datang. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut Kegiatan yang Dilakukan Guru Dari lembar observasi terlihat bahwa guru sudah melakukan proses pembelajaran dengan baik, mulai dari kegiatan apersepsi hingga melakukan refleksi. Akan tetapi masih ada aspek yang harus ditingkatkan yaitu penggunaan media yang kurang efektif dan partisipasi siswa yang hanya sebagian terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan yang Dilakukan Siswa Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat perhatian siswa dan peran guru dalam pembelajaran sudah baik, akan tetapi peran aktif siswa terkait dengan materi penggolongan tumbuhan masih perlu ditingkatkan, hal ini ditunjukkan dengan adanya penilaian sejawat sebesar 50 dari point C (kurang aktif). Sesuai dengan hasil penilaian tersebut dapat dijadikan sebagai bahan refleksi peneliti pada pelaksanaan siklus II. Data Hasil Belajar Siswa Tabel 4.3. Nilai Tes Akhir ( Pos Tes ) Pada Siklus I T Tuntas TT Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas 7 Jumlah siswa yang belum tuntas 5 Klasikal Belum tuntas Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Akhir Siswa pada Siklus I No.UraianHasil Siklus I1. 2. 3.Presentase nilai rata-rata tes Jumlah siswa yang tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar67,3 7 58,3 Berdasarkan rekapitulasi hasil tes akhir siswa siklus I bahwa dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 67,3 dan ketuntasan belajar mencapai 58,3 atau 7 siswa dari 12 siswa yang sudah tuntas belajar. Refleksi Hasil menunjukkan bahwa pada siklus I secara klasikal siswa belum tuntas belajar karena siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 60 hanya sebesar 58,3 lebih kecil dari presentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 67,3 . Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan kurang mengerti apa yang dimaksudkan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning. Selain itu, penguasaan materi dilakukan dengan mengamati buku ajar yang masih dirasa kurang konkret, keterlibatan siswa dalam pembelajaran kelompok juga masih belum merata dan sepenuhnya terlibat. Sehingga diperoleh hasil postes yang menunjukkan prosentase kecil siswa yang tuntas pada materi ini. Siklus II Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 10 April 2018 dikelas III SD Negeri Karangrejo dengan jumlah siswa 12 anak. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Kegiatan proses belajar mengajar mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan memperhatikan revisi pada siklus I sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Adapun pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I diuraikan sebagai berikut 1) Pada tahap pendahuluan peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Menyampaikan tujuan pembelajaran. Memotivasi siswa. Mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan terhadap media yang sudah disajikan. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal-hal yang muncul dari media yang sudah disediakan guru. Membagi kelompok secara heterogen dengan jumlah anggota 3-4 anak. 2) Pada tahap kegiatan inti peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Siswa memahami materi penggolongan tumbuhan. Siswa diajak ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan mencatat data yang diminta dalam lembar kerja siswa secara berkelompok dengan berpedoman pada materi yang mereka pahami dari kegiatan literatur sebelumnya. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menyimpulkan hasil penemuannya pada pengamatan langsung di lapangan. Siswa diberi kesempatan untuk menampilkan dan mempresentasikan hasil kerja kelompok dan membuat kesimpulan. Guru menanggapi setiap hasil pengamatan yang dilakukan oleh siswa pada lembar kerja siswa yang telah dipresentasikan. 3) Pada tahap penutup peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut Siswa bersama guru membuat kesimpulan hasil pembelajaran pada pertemuan kali ini. Guru memberi penghargaan terhadap kelompok yang berkinerja baik. Memberi motivasi kepada siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi soal postest. Menyampaikan informasi terhadap materi yang akan datang. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut Kegiatan yang Dilakukan Guru Dari pengamatan guru tersebut terlihat bahwa guru telah memperbaiki kesalahan di siklus I dengan lebih meningkatkan peran aktif siswa dengan membentuk kelompok yang dapat ditunjukkan dari lembar observasi diatas. Kegiatan yang Dilakukan Siswa Hasil observasi siklus II menunjukkan bahwa aktivitas siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, yaitu siswa sudah menunjukkan keterlibatan dalam pembelajaran yang sangat aktif yaitu menjadi 70 pada point A dan 30 aktivitasnya pada point B yang berarti aktif. Data Hasil Belajar Siswa Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi soal post tes II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah soal post tes II. Tabel 4.7. Nilai Tes Akhir (Post Tes) Pada Siklus II T Tuntas TT Tidak Tuntas Jumlah siswa yang tuntas 10 Jumlah siswa yang belum tuntas 2 Klasikal Sudah tuntas Tabel 4.8. Rekapitulasi Hasil Tes Akhir Siswa pada Siklus II No.UraianHasil Siklus I1. 2. 3,Presentase nilai rata-rata tes Jumlah siswa yang tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar81 10 83 Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran Analisis Hasil Belajar IPA melalui Model Discovery Learning Tabel 4.9 Hasil Penerapan Model Pembelajaran NoKeterangan AnalisisSiklus ISiklus II1Jumlah siswa yang tuntas belajar7102Presentase nilai rata-rata tes67,3813Presentase ketuntasan belajar58,383Berdasarkan hasil rekapitulasi pengamatan pengelolaan pembelajaran dapat dilihat bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu dari 7 siswa menjadi 10 siswa, itu berarti siswa lebih memahami materi penggolongan tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji dengan menggunakan model discovery learning melalui pengamatan langsung. Nilai rata-rata tes juga mengalami peningkatan dari tiap siklus yaitu dari 67,3 menjadi 81. Begitu juga dengan presentase ketuntasan belajar siswa dari 58,3 pada siklus I menjadi 81 pada siklus II ini berarti ketuntasan belajar siswa memang mengalami peningkatan dan pemahaman siswa tentang materi penggolongan tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji dengan menggunakan model discovery learning menjadi lebih baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan manfaat Model discovery learning sebagai proses pembelajaran yang menuntut siswa menemukan suatu konsep yang belum diketahui sebelumnya dengan cara melakukan suatu pengamatan dan penelitian dari masalah yang diberikan oleh guru yang bertujuan agar siswa berperan sebagai subjek belajar terlibat secara aktif dalam pembelajaran dikelas Kelebihan Model Pembelajaran discovery learning (Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013, 2014 31) yaitu Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Kemampuan Siswa dalam Proses Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh kemampuan belajar siswa dalam proses pembelajaran menggunakan model discovery learning dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap hasil belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata tes siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diperoleh nilai rata-rata postes sebesar 81 dan dari 12 siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa dan 2 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah dicapai sebesar 83. Hasil pada siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini dipengaruhi oleh adanya usaha siswa untuk mempelajari kembali materi ajar yang telah disampaikan oleh guru. Disamping itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran menggunakan model discovery learning, dimana pembelajaran dirasa lebih bermakna dan nyata karena mereka dilibatkan langsung pada pengamatan di lapangan dalam memahami materi penggolongan tumbuhan berdasarkan bentuk tulang daun, akar, batang, dan jumlah keping biji. Pada kegiatan pembelajaran sebelum dilaksanakan tindakan perbaikan, tercatat hasil belajar siswa kurang memuaskan. Nilai rata-rata kelas hanya mencapai 41,67. Kemudian hasil yang didapat setelah pelaksanaan tindakan kelas siklus pertama tercatat hasil nilai postes meningkat. Peningkatan pada siklus pertama yaitu rata-rata menjadi 67,3. Pada siklus yang kedua nilai rata-rata siswa lebih meningkat lagi. Peningkatan ini sangat baik yaitu menjadi 81. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan Depdiknas 2006 bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. IPA itu sendiri tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca sekilas saja, perlu disertai praktik dan contoh-contoh konkret dalam pembelajarannya yang seyogyanya melibatkan siswa dalam berbagai ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pembelajaran IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta menekankan pada pengelaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar anak didik mampu memahami alam sekitar melalui proses mencari tahu dan berbuat. Oleh karena itu model discovery learning dianggap sangat tepat diterapkan pada materi penggolongan tumbuhan ini dengan melihat dari berbagai ranah hasil belajar, baik secara kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Sejalan dengan tujuan model pembelajaran Discovery menurut Azhar (199199) yaitu Kemampuan berfikir agar lebih tanggap, cermat dan melatih daya nalar (kritis, analisis dan logis) Membina dan mengembangkan sikap ingin lebih tahu Mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik Mengembangkan sikap, keterampilan kepercayaan murid dalam memutuskan sesuatu secara tepat dan objektif. Simpulan dan Saran serta Tindak Lanjut Simpulan Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa model discovery learning memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Karangrejo yang ditandai dengan adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata kelas. Pada siklus I tingkat ketuntasan mencapai 58,3 dan pada siklus II naik menjadi 83. Kemudian untuk nilai rata-rata kelas, pada siklus I mencapai 67,3 dan nilai rata-rata kelas pada siklus II naik menjadi 81. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada siswa kelas III di SD Negeri Karangrejo. Saran Tindak Lanjut Penelitian ini diharapakan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu pendidikan. Berikut saran yang dapat disampaikan oleh peneliti 2.1. Saran Teoritis Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran yaitu model pembelajaran. Model pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar. Oleh karena itu model discovery learning dapat digunakan sebagai alternatif model yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa. 2.2. Saran Praktis Bagi Siswa Dengan menggunakan model discovery learning dapat meningkatkan aktivitas siswa, meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari melalui hasil temuannya sendiri, melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi serta memberikan pembelajaran yang lebih bermakna dalam jangka panjang. Bagi Guru Hendaknya guru dapat menggunakan model pembelajaran yang inovatif, supaya siswa tidak merasa bosan dan tidak merasa kesulitan untuk memahami materi tersebut sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat lebih maksimal. Daftar Pustaka ____________. 2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Agus suprijono. 2010. Cooperative Learning. Yogyakarta Pustaka Media Agus Suprijono. 2014. Cooperative Learning. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Bell, H. F. (1981). Teaching and Learning Matehmatics (In Secondary School). Iowa Wm. C. Brown Company. Bloom, Benjamin S., etc.1956. Taxonomy of Educational Objectives The Classification of Educational Goals, Handbook I Cognitive Domain. New York Longmans, Green and Co. Depdikbud.1994. Kurikulum Pendidikan Dasar (GBPP). Jakarta Depdiknas. Hamalik, Oemar. 2007.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta Bumi Aksara. Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor Ghalia Indonesia. Jihad Asep Abdul haris.2012. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta Multi Presindo. Muhibbin, Syah. (2004). Psikologi Pendidikan. Bandung Rosda Karya. Nitko, A.J.2007. Educational Assessment of Student. New Jersey Pearson Education Inc. Sudjana, nana.2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT Remaja Rosdakarya. Wardani, dkk 2017. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta Universitas Terbuka PAGE MERGEFORMAT 2
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document
mso-application progidWord.Document Y, dXiJ(x(I_TS1EZBmU/xYy5g/GMGeD3Vqq8K)fw9
xrxwrTZaGy8IjbRcXI
u3KGnD1NIBs
RuKV.ELM2fiVvlu8zH
(W )6-rCSj id DAIqbJx6kASht(QpmcaSlXP1Mh9MVdDAaVBfJP8AVf 6Q L L